Perkumpulan Ibu-Ibu PKK Desa Giritengah
Sumber: Dokumentasi KKN-PPM UGM 2019

Desa Giritengah merupakan salah satu desa di Kecamatan Borobudur yang memiliki banyak potensi ekonomi yang dapat dikembangkan guna meningkatkan tingkat kemakmuran masyarakatnya. Potensi ekonomi yang muncul tidak hanya muncul dari segi pariwisata alam, tapi dari sisi lain seperti kesenian, dan agrowisata.

1. Wisata Alam

Potensi pariwisata alam Desa Giritengah didukung oleh kondisi geografisnya yang berbukit-bukit. Wisata alam yang dikembangkan utamanya dengan membuka puncak-puncak bukit tersebut, sehingga wisatawan dapat dengan leluasa melihat pemandangan sekitar kecamatan bodobudur dan seringkali dimanfaatkan wisatawan untuk melihat matahari terbit atau tenggelam. Terdapat 4 puncak (punthuk) yang dibuka , yaitu Kendil, Limasan, Suroloyo, dan Mongkrong. Kendil dan Limasan berada di Dusun Kamal, sedangkan Suroloyo dan Mongkrong berada di Dusun Onggosoro.

Pembukaan 4 puncak di Desa Giritengah dipengaruhi oleh pembukaan puncak pertama yang berada di Desa Giripurno. Pembukaan pertama di Puncak Sukmajaya ternyata mampu menarik banyak sekali wisatawan. Melihat kesempatan yang didukung oleh kondisi geografis, kelompok-kelompok darwis di Desa Giritengah memutuskan untuk membuka wisata alam di empat puncak tersebut. Awal pembukaan, empat puncak tersebut berhasil menarik banyak wisatawan. Beberapa bulan setelah dibuka, mulai ada penurunan jumlah wisatawan hingga sampai saat ini hanya ada sekitar 10 perminggu yang datang.

Diketahui bahwa terdapat beberapa tantangan yang dihadapi ketika mengupayakan pengembangan wisata alam tersebut. Diversifikasi menjadi masalah utama yang dihadapi. Hasil penelusuran menunjukkan memang 4 puncak tersebut menawarkan objek yang sama, yaitu pemandangan alam sekitar Borobudur dan infrastruktur pendukung yang juga memiliki kemiripan. Tidak adanya diversifikasi menimbulkan kejenuhan dan mengurangi rasa tertarik wisatawan. Selain diversifikasi yang belum dipikirkan, tantangan lain muncul dari segi integrasi para pengelola. Sampai artikel ini diterbitkan, empat puncak tersebut masih dikelola oleh kelompok darwis yang berbeda dan berdiri sendiri.

Kepala Desa Giritengah mengatakan bahwa memang permasalahan utama dari pengelolaan pariwisata alam ini adalah tidak adanya diversifikasi ditiap spot. Lalu ia juga membenarkan bahwa pengelolaan pariwisata masih kurang terintegrasi. Namun, pemerintah desa mulai tahun ini sedang mengupayakan untuk mengintegrasikan pengelola wisata dibawah naungan BUMDes. Untuk masalah kesadaran masyarakat sudah cukup baik dilihat  dari pergerakan para kelompok darwis.

Dari sisi ekonomi, sangat jelas bahwa potensi tersebut dapat membawa dampak positif bagi ekonomi masyarakat Desa Giritengah jika dikembangkan dengan konsep yang sesuai. Untuk pariwisata alam, disarankan menggunakan konsep pengembangan yang bersifat pariwisata berkelanjutan. Kemudian pemerintah desa bersama-sama dengan kelompok darwis sebagai pengelola langsung juga harus segera menyelesaikan masalah pengintegrasian pengelolaan dan memikirkan diversifikasi yang akan dilakukan. Diversifikasi yang dilakukan pada objek wisata dapat mengurangi resiko kejenuhan wisatawan, sehingga kestabilan kunjungan wisatawan akan terjaga. Ciri khas dari setiap spot, harus ditonjolkan untuk menarik perhatian wisatawan.

 

2. Kesenian

Kesenian tradisional khususnya tari-tarian dan gamelan masih sangat terjaga di Desa Giritengah. Menurut pemaparan kepala desa, warga Desa Giritengah masih sangat menjaga budaya. Kelompok-kelompok kesenian tiap dusun masih sering mengadakan latihan rutin. Banyak juga warga yang berprofesi sebagai penggiat seni. Hampir setiap tahun di bulan suro, Desa Giritengah mengadakan pertunjukan kesenian yang dimulai dengan kirab dari balai desa menuju Sendang Suruh dan kembali lagi ke balai desa, kirab ditutup dengan pertunjukan seni di balkondes.

Dari segi ekonomi, kesenian yang dimiliki desa giritengah merupakan suatu potensi yang patut untuk dikembangkan. Beberapa aspek sudah mendukung pengembangan potensi kesenian tersebut, diantaranya aspek SDM yang pada dasarnya sudah menggemari kesenian, serta aspek budaya dan adat istiadat yang masih terjaga dengan baik. Seiring dengan pengembangan pariwisata alam, pemerintah desa dapat seraca beriringan dengan para penggiat seni mengembangan potensi kesenian yang ada. Acara tahunan yang berkaitan dengan kesenian dapat diekspos keluar lebih giat lagi, misalnya dengan memasang informasi di berbagai lokasi strategis atau dapat pula di website desa. Kepala desa Desa Giritengah mengatakan bahwa pemerintah desa telah mempunyai rencana terkait pengembangan potensi kesenian ini dan sedang dalam proses pematangan.

 

3. Agrowisata

Kondisi geografis yang berbukit-bukit tidak hanya memberikan keuntungan dari segi pariwisata alam, tapi juga memberikan keuntungan dari agrowisatanya. Hutan yang masih terjaga dan juga iklim yang dingin, mendukung potensi peternakan lebah madu. Sudah beberapa tahun ini Desa Giritengah dikenal sebagai desa penghasil madu. Banyak diantara warga Dusun Kamal dan Dusun Ngaglik yang menjadi petani madu. Rata-rata mereka memiliki 10-15 kotak sarang lebah yang tersebar di hutan. Para petani juga hampir sudah menguasai cara memanen madu dan memanfaatkan bagian lain, seperti lilin lebah atau yang lebih dikenal sebagai bees wax.

Kondisi saat ini, produksi madu masih rendah dan petani madu masih belum memiliki pasar yang luas. Rata-rata mereka memasarkan produk melalui media online dan masih menjual secara individual dengan jumlah yang kecil. Sinergitas antar petani diperlukan ketika ingin memperluas pasar, mengingat produksi madu individual yang masih rendah. Selain menjual produk madu, pemerintah desa bisa jadi memanfaatkan peternakan madu tersebut sebagai tempat wisata, misalnya dengan membuka kelas memanen madu bagi para wisatawan yang berkunjung. Berbagai alternative tersebut dapat mendorong ketertarikan wisatawan untuk berkunjung ke Desa Giritengah dan mendorong Desa Giritengah menjadi desa madu yang secara tidak langsung hal tersebut juga akan berimbas positif kepada kondisi ekonomi masyarakat.